Pada sesi kali ini diisi oleh Ustad yang berbeda dari biasanya. Ustad Bambang memulai dengan menjelaskan sebab kemunduran Islam menurut Imam Al-Ghazali diantaranya adalah:
1. Meninggalkan sunnatullah yang berupa sebab akibat.
2. Bodoh terhadap dunia
3. Merebaknya jabariyah
4. Kemunduran iptek dan pemikiran
5. Lemahnya perencanaan
6. Tidak profesionalisme dalam beramal.
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Minggu, 31 Mei 2009
Selasa, 30 Desember 2008
MEMBANGUN KADER YANG AMANAH DAN ISTIQOMAH DEMI TERWUJUDNYA PROFESIONALISME DAKWAH
Setiap manusia yang telah berikrar bahwa Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai rasul Allah, maka sudah menjadi suatu kewajiban bagi dirinya untuk memahami nilai-nilai Islam dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada setiap dimensi kehidupan seharusnya nilai-nilai Islam mewarnai dan menjadi pokok dan sendi dalam segala aspek, baik aspek pemerintahan, social, budaya, ekonomi dan juga segala hubungan dengan masyarakat. Namun dalam realita yang ada serta fenomena yang ada pada ummat, bahwa banyak yang masih tidak memahami Islam secara komprehensif dan tidak mampu mengamalkannya secara menyeluruh. Dan orang yang dapat menerapkannya dalam hidupnya jarang dari mereka yang konsisten dan bertahan dengan baik.
Dalam membangun masyarakat yang tertanam didalamnya nilai-nilai Islam tentunya dibutuhkan para pelopor yang mampu menggagas ide untuk diperjuangkan melalui menyerukannya ajaran Islam kepada masyarakat. Pelopor inilah yang nanti menjadi kader dakwah sebagai orang yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat untuk mengemban tugas yang mulia dalam menyerukan kebenaran.
Idealnya sebagai kader dakwah yang berjuang dijalan Allah, wajib darinya untuk mempunyai sifat yang amanah, karena dengan sifat inilah nantinya mampu mencapai keberhasilan. Amanah didefinisikan sebagai karakter dari kejujuran dan keadilan dalam melaksankan tugas atau profesi yang diberikan. Begitu besar makna dan perannya dalam kehidupan, khususnya dalam kehidupan Dakwah Ilallah. Dakwah Ilallah akan terasa hampa dan kering tanpa amanah. Dakwah Ilallah akan hancur, paling tidak menyimpang dari jalan dakwah itu sendiri tanpa amanah, terlebih lagi jika yang tidak amanah itu para pemimpinnya, ulamanya dan para orang kaya yang ada di dalamnya. Amanah akan menimbulkan kepercayaan dan kepercayaanlah yang menyebabkan banyak orang respect. Melalui sifat amanah inilah para penyeru kebenaran dan para penggagas tertanamnya nilai-nilai Islam bergerak, sebab kita tahu sendiri bahwasanya amanah inilah yang nantinya dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.
Selain amanah, dalam dakwah dibutuhkan juga kader-kader yang mempunyai keistiqomahan yang tinggi dalam menegakkan tiang-tiang agama. Berdasarkan definisinya Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).
Akhirnya dari amanah dan keistiqomahan inilah nantinya tumbuh kader-kader dakwah yang professional dan mampu mengejar serta mewujudkan masyarakat islami.
Pada setiap dimensi kehidupan seharusnya nilai-nilai Islam mewarnai dan menjadi pokok dan sendi dalam segala aspek, baik aspek pemerintahan, social, budaya, ekonomi dan juga segala hubungan dengan masyarakat. Namun dalam realita yang ada serta fenomena yang ada pada ummat, bahwa banyak yang masih tidak memahami Islam secara komprehensif dan tidak mampu mengamalkannya secara menyeluruh. Dan orang yang dapat menerapkannya dalam hidupnya jarang dari mereka yang konsisten dan bertahan dengan baik.
Dalam membangun masyarakat yang tertanam didalamnya nilai-nilai Islam tentunya dibutuhkan para pelopor yang mampu menggagas ide untuk diperjuangkan melalui menyerukannya ajaran Islam kepada masyarakat. Pelopor inilah yang nanti menjadi kader dakwah sebagai orang yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat untuk mengemban tugas yang mulia dalam menyerukan kebenaran.
Idealnya sebagai kader dakwah yang berjuang dijalan Allah, wajib darinya untuk mempunyai sifat yang amanah, karena dengan sifat inilah nantinya mampu mencapai keberhasilan. Amanah didefinisikan sebagai karakter dari kejujuran dan keadilan dalam melaksankan tugas atau profesi yang diberikan. Begitu besar makna dan perannya dalam kehidupan, khususnya dalam kehidupan Dakwah Ilallah. Dakwah Ilallah akan terasa hampa dan kering tanpa amanah. Dakwah Ilallah akan hancur, paling tidak menyimpang dari jalan dakwah itu sendiri tanpa amanah, terlebih lagi jika yang tidak amanah itu para pemimpinnya, ulamanya dan para orang kaya yang ada di dalamnya. Amanah akan menimbulkan kepercayaan dan kepercayaanlah yang menyebabkan banyak orang respect. Melalui sifat amanah inilah para penyeru kebenaran dan para penggagas tertanamnya nilai-nilai Islam bergerak, sebab kita tahu sendiri bahwasanya amanah inilah yang nantinya dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.
Selain amanah, dalam dakwah dibutuhkan juga kader-kader yang mempunyai keistiqomahan yang tinggi dalam menegakkan tiang-tiang agama. Berdasarkan definisinya Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqamah ia menjawab bahwa istiqamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapa pun).
Akhirnya dari amanah dan keistiqomahan inilah nantinya tumbuh kader-kader dakwah yang professional dan mampu mengejar serta mewujudkan masyarakat islami.
MEREKA YANG MERUGI DAN MEREKA YANG BERUNTUNG
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS: Al Ashr 1-3)
Imam Safi’i pernah mengatakan seandainya Al Quran itu tidak turun maka sesungguhnya Al Ashr sudah menjadi hujah yang kuat bagi umat islam. Hal inilah salah satu keagungan dari Al Quran yang terdapat dalam surat tersebut yang apabila kita cermati ternyata kandungannya begitu sangat luar biasa.
Dalam surat ini Allah memberikan peringatan kepada umat manusia bahwa mereka semua dalam keadaan yang merugi. Kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati suapaya menaati kebenaran dan nasehat- menasehati dalam kesabaran.
Orang yang beriman disini berarti meyakini dengan sepenuh hati atas 6 rukun iman. Pada hal ini dititik beratkan tentang bagaimana kita bisa beriman dengan mempunyai ilmu tentang apa yang diimani. Ilmu disini adalah ilmu tentang ma’rifatullah, ma’rifatur Rasul dan ma;rifatul dinul Islam. Ma’rifatullah akan mengantarkan kita kepada tauhidullah yang nantinya terposisi pada kalimat Lailahaillallah. Sedangkan ma’rifatur Rasul membawa akan ajaran para rasul dengan menjadikannya sebagai tauladan bagi kehidupan seorang muslim dalam setiap pergerakannya di muka bumi. Dan yang terakhir adalah ma’rifatul dinul Islam, yaitu menjadikan Islam sebagai manhaj atau sistem dalam segala aspek kehidupan baik bidang politik, ekonomi, social maupun budaya.
Selain beriman seorang muslim harus mempunyai amal yang baik. Amal disini adalah amal sholih yang bisa mencirikan iman dari seseorang. Kemudian saling nasehat menasehati supaya menaati kebenaran berarti kegiatan ini adalah kegiatan dakwah, dimana seorang muslim diberikan amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Setelah ketiga ini ditutup dengan kata saling nasehat menasehati dalam kesabaran, yang berarti dituntut untuk bersabar dalam segala hal.
Apabila kita bisa menilik pesan yang tersirat dalam surat ini ternyata tidak bisa umat muslim hanya mengerjakan sebagian dari 4 hal di atas. Sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat berkaitan dan tidak terpisah. Seseorang masih dikatakan merugi apabila dirinya hanya beriman saja tanpa mengerjakan amal shalih atau tanpa berdakwah. Seseorang masih belum beruntung apabila ia mengerjakan amal shalih, berdakwah dan sabar tanpa mempunyai iman. Oleh karena itu keempat hal diatas merupakan sesuatu yang sangat utuh dan berkaitan satu sama lain.
(Materi yang disampaikan Ust, Budi Nur Iman pada kegiatan KIP PPSDMS Reg 4 dengan bahasa dan gaya penyampaian dari penulis)
Imam Safi’i pernah mengatakan seandainya Al Quran itu tidak turun maka sesungguhnya Al Ashr sudah menjadi hujah yang kuat bagi umat islam. Hal inilah salah satu keagungan dari Al Quran yang terdapat dalam surat tersebut yang apabila kita cermati ternyata kandungannya begitu sangat luar biasa.
Dalam surat ini Allah memberikan peringatan kepada umat manusia bahwa mereka semua dalam keadaan yang merugi. Kecuali orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati suapaya menaati kebenaran dan nasehat- menasehati dalam kesabaran.
Orang yang beriman disini berarti meyakini dengan sepenuh hati atas 6 rukun iman. Pada hal ini dititik beratkan tentang bagaimana kita bisa beriman dengan mempunyai ilmu tentang apa yang diimani. Ilmu disini adalah ilmu tentang ma’rifatullah, ma’rifatur Rasul dan ma;rifatul dinul Islam. Ma’rifatullah akan mengantarkan kita kepada tauhidullah yang nantinya terposisi pada kalimat Lailahaillallah. Sedangkan ma’rifatur Rasul membawa akan ajaran para rasul dengan menjadikannya sebagai tauladan bagi kehidupan seorang muslim dalam setiap pergerakannya di muka bumi. Dan yang terakhir adalah ma’rifatul dinul Islam, yaitu menjadikan Islam sebagai manhaj atau sistem dalam segala aspek kehidupan baik bidang politik, ekonomi, social maupun budaya.
Selain beriman seorang muslim harus mempunyai amal yang baik. Amal disini adalah amal sholih yang bisa mencirikan iman dari seseorang. Kemudian saling nasehat menasehati supaya menaati kebenaran berarti kegiatan ini adalah kegiatan dakwah, dimana seorang muslim diberikan amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Setelah ketiga ini ditutup dengan kata saling nasehat menasehati dalam kesabaran, yang berarti dituntut untuk bersabar dalam segala hal.
Apabila kita bisa menilik pesan yang tersirat dalam surat ini ternyata tidak bisa umat muslim hanya mengerjakan sebagian dari 4 hal di atas. Sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat berkaitan dan tidak terpisah. Seseorang masih dikatakan merugi apabila dirinya hanya beriman saja tanpa mengerjakan amal shalih atau tanpa berdakwah. Seseorang masih belum beruntung apabila ia mengerjakan amal shalih, berdakwah dan sabar tanpa mempunyai iman. Oleh karena itu keempat hal diatas merupakan sesuatu yang sangat utuh dan berkaitan satu sama lain.
(Materi yang disampaikan Ust, Budi Nur Iman pada kegiatan KIP PPSDMS Reg 4 dengan bahasa dan gaya penyampaian dari penulis)
ORANG YANG MENJADI PENOLONG AGAMA ALLAH
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Qs. Fushilat: 33).
Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita. Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah? Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.
Menolong agama Allah sama artinya dengan mewarisi tugas mulia para Rasul. Meneruskan perjuangannya untuk menegakkan yang hak diatas yang batil serta berusaha untuk menghilangkan rasa kufur kepada Allah SWT. Setelah Rasulullah wafat, tugas menolong agama Allah menjadi tanggung jawab generasi seterusnya. Ibarat mata rantai, para penolong agama Allah menjadi penjaga terpeliharanya kejayaan agama itu. Karenanya, di zaman kapan pun seorang muslim lahir dan hidup, maka ia menjadi penanggung jawab bagi tegaknya agama Allah pada zamannya itu. Dan, kini, di zaman ini, adalah tugas kita yang hidup saat ini untuk menjadi penolong agama Allah.
Menolong agama Allah bisa menjadi penghalang dari azab Allah. Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah SWT menyatakan, bahwa salah satu yang menghalangi-Nya untuk mengazab sebuah kaum, adalah bila mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihun).
Lalu, bagaimana caranya menjadi penolong agama Allah? Mudah. Tinggal sejauh mana kesiapan kita untuk mau dan mampu menjadi penolong agama Allah.
Hal ini bisa dilakukan dengan menjadi kader inti bagi sebuah perjuangan da‘wah. Orang-orang seperti ini secara tulus membina diri mereka lalu menyerahkan diri sepenuh hati untuk menolong dan menegakkan agama Allah. Yang paling menonjol dari karakter penolong inti adalah, mereka melakukan transaksi hidup dan perjuangannya dengan Allah, meski secara amal ia berjuang bersama saudara-saudaranya seaqidah.
Dalam catatan perjuangan Rasulullah, banyak contoh kader dan penolong inti tersebut. Betapa banyak penghargaan-penghargaan terhormat yang diberikan Allah kepada para kader inti itu, yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Hal lain yang dilakukan adalah dengan mendukung atau paling tidak memberi simpatisan dalam perjuangan Islam, menolong agama Allah tapi keterikatan dirinya masih dibawah para penolong inti, atau kader inti di atas. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah, banyak juga orang yang menerima Islam dan mendukung perjuangan Rasulullah, meski kelasnya tidak sehebat para kader inti.
Jelaslah sudah. Untuk menjadi penolong agama Allah bisa dilakukan siapa saja meski dalam pilihan yang berbeda. Perbedaan itu bukan kasta-kasta, tapi sunnatullah. Karena tabiat manusia sendiri berbeda-beda, kemampuan-nya pun berbeda pula. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup baik menjadi pendukung, ada pula yang bisanya menjadi simpatisan.
Selain itu, tuntunan amal da‘wah pun berbeda-beda. Kadang membutuhkan ketajaman lisan, kadang membutuhkan berjuta uang, membutuhkan tenaga dan pikiran, membutuhkan waktu, tapi kadang juga membutuhkan keberanian untuk mati di jalan agama ini, atau membutuhkan banyak lagi pengorbanan besar lainnya.
Alasan lain, tantangan amal da’wah berbeda-beda. Lain tempat lain tantangannya. Lain kondisi lain halangannya. Lain zaman lain pula rintangannya.
Seruan untuk menjadi penolong agama Al-lah itu telah lama berkumandang, karenanya, setiap muslim, setiap da’i, setiap organisasi da’wah, harus mengelola diri sendiri dan juga umat ini dengan baik. Agar lahir penolong-penolong agama Allah yang handal, tulus, dan punya semangat kerja tinggi. Jangan biarkan agama ini kehilangan penolong. Jangan biarkan da’wah ini kehabisan kader.
Kian hari seruan itu kian bergema. Maka sambutlah, dan jadilah kader, pendukung, atau simpatisan da’wah. Dan, jangan jadi pengkhianat dan penghancur agama Allah.
Ditulis dar berbagai sumber dengan perubahan secukupnya
Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita. Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah? Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.
Menolong agama Allah sama artinya dengan mewarisi tugas mulia para Rasul. Meneruskan perjuangannya untuk menegakkan yang hak diatas yang batil serta berusaha untuk menghilangkan rasa kufur kepada Allah SWT. Setelah Rasulullah wafat, tugas menolong agama Allah menjadi tanggung jawab generasi seterusnya. Ibarat mata rantai, para penolong agama Allah menjadi penjaga terpeliharanya kejayaan agama itu. Karenanya, di zaman kapan pun seorang muslim lahir dan hidup, maka ia menjadi penanggung jawab bagi tegaknya agama Allah pada zamannya itu. Dan, kini, di zaman ini, adalah tugas kita yang hidup saat ini untuk menjadi penolong agama Allah.
Menolong agama Allah bisa menjadi penghalang dari azab Allah. Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah SWT menyatakan, bahwa salah satu yang menghalangi-Nya untuk mengazab sebuah kaum, adalah bila mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihun).
Lalu, bagaimana caranya menjadi penolong agama Allah? Mudah. Tinggal sejauh mana kesiapan kita untuk mau dan mampu menjadi penolong agama Allah.
Hal ini bisa dilakukan dengan menjadi kader inti bagi sebuah perjuangan da‘wah. Orang-orang seperti ini secara tulus membina diri mereka lalu menyerahkan diri sepenuh hati untuk menolong dan menegakkan agama Allah. Yang paling menonjol dari karakter penolong inti adalah, mereka melakukan transaksi hidup dan perjuangannya dengan Allah, meski secara amal ia berjuang bersama saudara-saudaranya seaqidah.
Dalam catatan perjuangan Rasulullah, banyak contoh kader dan penolong inti tersebut. Betapa banyak penghargaan-penghargaan terhormat yang diberikan Allah kepada para kader inti itu, yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Hal lain yang dilakukan adalah dengan mendukung atau paling tidak memberi simpatisan dalam perjuangan Islam, menolong agama Allah tapi keterikatan dirinya masih dibawah para penolong inti, atau kader inti di atas. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah, banyak juga orang yang menerima Islam dan mendukung perjuangan Rasulullah, meski kelasnya tidak sehebat para kader inti.
Jelaslah sudah. Untuk menjadi penolong agama Allah bisa dilakukan siapa saja meski dalam pilihan yang berbeda. Perbedaan itu bukan kasta-kasta, tapi sunnatullah. Karena tabiat manusia sendiri berbeda-beda, kemampuan-nya pun berbeda pula. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup baik menjadi pendukung, ada pula yang bisanya menjadi simpatisan.
Selain itu, tuntunan amal da‘wah pun berbeda-beda. Kadang membutuhkan ketajaman lisan, kadang membutuhkan berjuta uang, membutuhkan tenaga dan pikiran, membutuhkan waktu, tapi kadang juga membutuhkan keberanian untuk mati di jalan agama ini, atau membutuhkan banyak lagi pengorbanan besar lainnya.
Alasan lain, tantangan amal da’wah berbeda-beda. Lain tempat lain tantangannya. Lain kondisi lain halangannya. Lain zaman lain pula rintangannya.
Seruan untuk menjadi penolong agama Al-lah itu telah lama berkumandang, karenanya, setiap muslim, setiap da’i, setiap organisasi da’wah, harus mengelola diri sendiri dan juga umat ini dengan baik. Agar lahir penolong-penolong agama Allah yang handal, tulus, dan punya semangat kerja tinggi. Jangan biarkan agama ini kehilangan penolong. Jangan biarkan da’wah ini kehabisan kader.
Kian hari seruan itu kian bergema. Maka sambutlah, dan jadilah kader, pendukung, atau simpatisan da’wah. Dan, jangan jadi pengkhianat dan penghancur agama Allah.
Ditulis dar berbagai sumber dengan perubahan secukupnya
Langganan:
Postingan (Atom)